Kamis, 16 Agustus 2012

LAPORAN PRAKTIKUM MEKTKAN (pengujian SONDIR)


PENGUJIAN SONDIR

1.1. Maksud Percobaan
Alat ini digunakan untuk mengetahui perlawanan tanah terhadap konus dan hambatan lekatnya. Tahanan konus adalah perlawanan tanah terhadap ujung konus yang dinyatakan dalam gaya persatuan luas, sedangkan hambatan lekat adalah perlawanan geser tanah terhadap selubung bikonus dalam gaya persatuan panjang.

1.2. Teori Singkat
Desain pondasi, bendungan tanah, atau dinding penahan tidak dapat dibuat dengan cara yang rasional dan memuaskan tanpa desainer paling tidak memiliki konsepsi akurat yang dapat diterima dari sifat-sifat fisis tanah yang dihadapinya. Penyelidikan lapangan dan laboratorium yang diperlukan untuk memperoleh informasi ini dinamakan eksplorasi tanah.
Sampai beberapa decade yang lalu, kegiatan eksplorasi tanah masih tetap belum memadai karena metode-metode pengujian tanah yang rasional belum dikembangkan. Sementara itu, pada saat ini jumlah pengujian tanah dan perbaikan-perbaikan teknik pengujian tersebut sering kali diluar proposi yang berkaitan dengan nilain praktis yang dihasilkan. Untuk menghindari keadaan ekstrim tersebut, perlulah disesuaikan program eksplorasi dengan kondisi-kondisi tanah dan besarnya pekerjaan.
Jika pondasi dari suatu bangunan yang penting akan didirikan di atas lapisan lempung yang agak homogeny, maka mungkin perlu dipertimbangkan pengadaan sejumlah besar pengujian tanah yang dilakukan oleh teknisi-teknisi laboratorium yang ahli, karena hasil-hasil pengujian tersebut memungkinkan kita menduga dengan cepat (secara relatif) besar dan laju waktu penurunan. Berdasarkan dengan ini, kita dapat menghilangkan bencana akibat perbedaan penurunan. Berdasarkan dengan ini, kita dapat menghilangkan bencana akibat perbedaan penurunan (differential settlement) dengan cara yang cukup murah, yakni dengan mendistribusikan beban secukupnya, atau dengan memperkirakna kedalaman yang cocok bagi pondasi yang terletak diberbagai tempat disebelah bawah bangunan. Di lain hal, jika bangunan yang sama akan dibuat di atas endapan yang tersusun atas kantong-kantong dan lensa-lensa pasir, lempung, dan lanau, jumlah pengujian yang serupa akan menambah informasi yang sangat sedikit yang dapat diperoleh hanya dengan menentukan sifat-sifat indeks dari beberapa lusin contoh representative yang diambil dari lubang-lubang bor. Data-data tambahan yang jauh lebih penting dari data-data yang didapat melalui pengujian ekstensif tersebut bias diperoleh dalam waktu yang lebih singkat dan dengan biaya yang lebih murah dengan melalukan sounding semacam itu dapat mengungkapkan tempat-tempat rawan yang (sekalipun) daerah-daerah semacam itu lebih penting dari pada pengetahuan yang akurat mengenai sifat-sifat contoh-contoh tanah yang acak.
Alinea di atas menerangkan bahwa, jika profil tanah kompleks, maka program pengujian tanah yang terperinci nampaknya tidaklah tepat. Dengan demikian, metoda eksplorasi tanah harus dipilih sesuai dengan tipe profil tanah yang dilapangan tempat bangunan akan didirikan. Alinea-alinea berikut akan menguraikan karakteristik-karakteristik penting dari tipe-tipe utama profil tanah yang bias dijumpai di lapangan.
Profil tanah (soill profile) adalah penampang vertical melalui lapisan-lapisan tanah di bawah permukaan yang menunjukan ketebalan dan deretan lapisan-lapisan tanah yang berbeda. Istilah lapisan tanah (stratum) diartikan sebagai lapisan tanah yang relative tertentu yang berbatasan dengan lapisan-lapisan tanah lainnya sejajar, maka profil tanah dikatakan sederhana (simple) dan teratur (regular). Jika batas-batas tersebut tertentu, nampaknya menunjukan pola yang kurang lebih tidak teratur, maka profil tanah tersebut disebut tak menentu / eratik (erratik).
Sampai kedalaman kira-kira 6 kaki dari permukaan tanah,dan kadang-kadang lebih dalam lagi, sifat-sifat fisis tanah dipengaruhi oleh perubahan-perubahan musiman dari kelembaban dan temperatur serta oleh unsur-unsur biologis seperti akar, cacing, dan bakteri. Bagian sebelah atas dari daerah ini disebut horison-A. Daerah ini terutama dipengaruhi oleh efek-efek mekanik akibat pelapukan dan hilangnya beberapa unsur penyusun tanah akibat proses pelapukan (leaching), bagian sebelah bawah dinamakan horison-B, tempat diendapkan dan diakumulasikan bahan-bahan yang dihanyutkan dari horison A.
Sifat-sifat tanah dalam horison-A dan B terutama merupakan perhatian para agronomis dan pembuat jalan. Engineer pondasi dan bangunan tanah terutama tertarik pada lapisan tanah di bawahnya. Di bawah horison-B karakter tanah hanya ditentukan oleh bahan-bahan kasar pembentuknya, metoda pengendapannya, dan oleh peristiwa-peristiwa geologi selanjutnya. Lapisan tanah yang membentuk profil tanah di bawah horison-B mungkin agak homogen atau mungkin terdiri atas elemen-elemen yang lebih kecil yang sifat-sifatnya agak merata.

1.3. Peralatan
Ø  Mesin sondir dengan berat 2 ton
Ø  Manometer 2 buah dengan kapasitas 0 – 50 kg/cm2 dan 0 – 250 kg/cm2
Ø  Konus dan bikonus
Ø  1 set angker
Ø  Seperangkat batang sondir
Ø  Kunci pipa, oli dan minyak hidrolik

1.4. Prosedur Percobaan
a.       Bersihkan tempat yang akan dilakukan percobaan Sondir dari rumput-rumput atau kotoran sehingga permukaan tanah menjadi rata.
b.      Pasang jangkar sesuai dengan kaki sondir.
c.       Jepit kaki sondir pada jangkar lalu atur posisi sondir agak tegak lurus menggunakan waterpass.
d.      Kamar destilasi diisi dengan oli sampai penuh dan harus bebas dari gelembung udara.
e.       Pasang patent konus/bikonus pada drat stang berikut stang di dalamnya. Tempatkan stang sondir tersebut pada lubang pemusat pada kaki sondir tepat di bawah ruang oli. Pasang kop penekan lalu putarlah engkol sampai menyentuh ujung atas stang sondir.
f.       Tiang sondir diberi tanda tiap 20 cm dengan menggunakan spidol.
g.      Engkol pemutar kembali diputar sehingga patent konus/bikonus masuk ke dalam tanah. Setelah kedalaman 20 cm, engkol pemutar diputar sedikit dengan arah berlawanan. Traker ditarik ke depan dalam posisi lubang bulat.
h.      Buka kran yang menuju manometer.
i.        Engkol pemutar diputar kembali sehingga stang dalam tertekan ke dalam tanah dengan kecepatan 2 cm/dt. Stang dalam akan menekan piston lalu akan menekan oli di dalamnya. Tekanan yang terjadi akan menekan manometer. Patent konus akan mengukur tahanan ujung konus (qc).
j.        Tekan stang catat angka yang ditunjukkan manometer, teruskan penekanan sampai jarum manometer bergerak untuk kedua kalinya.
k.      Putar kembali engkol pemutar berlawanan arah. Lakukan penekanan kembali sejarak 20 cm berikutnya.
l.        Setelah mencapai kedalaman 1 meter, stang sondir disambung. Naikan piston penekan supaya sondir berikutnya bias disambungkan, gunakan kunci pipa untuk mengencangkan.
m.    Setelah mencapai kedalaman tanah keras, (tekanan konus lebih dari 150kg/cm2), percobaan dihentikan.






Cara Kerja Bikonus
Ø  Penetrasi pertama-tama akan menggerakkan ujung konus ke bawah sedalam 4 cm.
Ø  Baca manometer yang menunjukkan perlawanan ujung (perlawanan konus).
Ø  Penekanan selanjutnya pada batang dalam akan menggerakkan konus beserta selubung sedalam 8 cm.
Ø  Baca manometer yang menunjukkan jumlah perlawanan hambatan yaitu Perlawanan Konus (HK) dan Hambatan Pelekat (HL).
Ø  Setelah tegangan mencapai 150kg/cm2 , maka percobaan selesai dan batang-batang sondir dicabut kembali dengan hati-hati dan tiap batang dikeluarkan, sedang batang yang masih tertanam di dalam tanah harus dipegang dengan kunci agar tidak terlepas.
Ø  Setelah batang-batang seluruhnya diangkat, maka alat sondir dapat dipindahkan dan angker dapat dicabut kembali.

1.5. Analisa Data
Diketahui :
(Sample data sondir pada kedalaman 1.20 m)
Ø  Hambatan konus (HK)                        : 30 kg/cm2
Ø  Hambatan Pelekat (HK + HP)            : 32 kg/cm2
Penyelesaian :
Ø  Menghitung Hambatan Pelekat (HP)
HP       = (HK + HP) - HK
            = 32 - 30
            = 2 kg/cm2 .  
Ø  Menghitung Jumlah Hambatan Setempat (JHS) tiap 20 cm
JHS = HP x  

Dimana :
A : tahap pembacaan tiap 20 cm
B : factor kalibrasi alat =  = 10

JHS = 2 x  = 4 kg/cm
Ø  Jumlah Hambatan Pelekat (JHP)
JHP =  -24 kg/cm (komulatif dari JHS)
Ø  Hambatan Setempat (HS)
 HS      =    atau ;
                        =     =  =  0,2 kg/cm
                       
@ Perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel.











































































































1.6. Kesimpulan dan Diskusis
A.    Kesimpulan
Ø  Berdasarkan hasil sondir yang telah dilaksanakan, di peroleh data :
a.       Tanah keras pada kedalaman -6,80 meter dari permukaan tanah.
b.      Jumlah hambatan konus pada kedalaman tersebut di atas                       115 kg/cm2 .   
c.       Jumlah hambatan pelekat  178 kg/cm.
d.      Hambatan setempat 1 kg/cm

B.     Diskusi
Ø  Hati-hati pada saat melakukan penyambungan batang sondir, begitu pula pada saat pengangkatan pipa sondir.
Ø  Cermati dengan teliti penunjukan manometer pada saat dilaksanakan penyondiran.
Ø  Dengan data sondir yang diperoleh dilapangan, dapat digabungkan dengan penyelidikan tanah yang lainnya (Pengujian Boring) sehingga dapat merencanakan suatu bentuk pondasi yang diinginkan dengan hasil yang meyakinkan.
Ø  Penyondiran hanya dapat dilakukan pada tanah yang berbutir halus seperti lempung, lanau, sedangkakn untuk tanah yang berbatu-batuan tidak cocok dilaksanakan karena hasilnya dapat meragukan.







SKETSA LOKASI SONDIR DAN BORING


 
Nama Lokasi               : Kampus UNSIMAR
Tim Pelaksana             : Kelompok 1











Text Box: GEDUNG DAHLIA


Text Box: GEDUNG REKTORAT,Text Box: GEDUNG E

 

















Keterangan :
                Lokasi Sondir
                Lokasi Boring

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar